Minggu, 03 Juli 2011

kisah teladan


”Abu Hadits” Basel Najee
Singa Muda al Qassam Yang Merindukan Syahadah
Bagai Rahib di Malam Hari, Singa di Siang Hari
(1)

Dengan menengok sebentar, meski sekilas, kepada wasiat yang ditulis singa muda al Qassam, Basel Najee, barangkali kita dapat memahami bahwa petarung al Qassam ini bukan sembarang petarung seperti yang lainnya, bahwa ahli ibadah yang zuhud ini tidak sembarang ahli ibadah layaknya yang lain, bahwa pemuda yang mempertaruhkan hidupnya untuk kemulian tanah suci Palestina dan demi kehormatan umat Islam seluruh dunia ini tidak seperti pemuda umumnya.
Sejatinya, ketika kita membincangkan tentang Singa al Qassam, maka sesungguhnya kita sedang membincangkan tentang seorang pemuda terpelajar yang wara’, taqwa dan jernih, serta seorang pemuda yang ikhlas tanpa mengenal lelah ataupun putus asa. Semenjak kecil, dia telah memiliki watak luhur penuh izzah tak mengenal kehinaan dan ketundukan kecuali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Melakukan hal yang imposible demi menggapai surga-Nya, telah menemukan kerinduannya di brigade kemuliaan dan kebanggaan, Brigade Izzuddin al Qassam.
 Pahlawan muda, ini punya nama lengkap Basel Ibrahim Abdullah Najee. Dilahirkan di Kamp Pengungsi Jabaliya pada awal tahun 1980-an, dari seorang ayah dan ibu yang merasakan pahitnya petaka (nakbah) dan pengusiran. Keluarga Basel terpaksa eksodus dari tanah kelahirannya, el Sawafir Utara, saat terusir pada tahun petaka (nakbah) 1948, ketika bandit-bandit Israel yang didukung kolonial Inggris menjarah dan merampas tanah suci Palestina dari pemiliknya yang sah, sebuah awal dari episode penderitaan panjang bagi rakyat Palestina. Karena berbagai pengusiran, pembantaian dan tindak kebiadaban akhirnya menjadi episode-episode yang tak pernah tamat hingga hari ini.
Basel dilahirkan dalam sebuah keluarga besar. Dia anak laki-laki yang keenam dengan lima saudara laki-laki dan tiga saudara perempuan. Basel tumbuh dan berkembang di Kamp Pengungsi Jabaliya. Di sana Singa muda Palestina ini menyusu berbagai arti dan makna kemuliaan dan perjuangan. Bagaimana tidak, Kamp Pengungsi Jabaliya tempat dia tumbuh dan berkembang telah melahirkan seorang pemimpin para aktivis al Qassam, pejuang legendaris Palestina yang ditakuti oleh musuh-musuhnya meski tubuhnya telah tercabik-cabik tak bernyawa: Asy Syahid Imad Aqil.
Basel menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama di sekolah putera di Jabaliya. Hampir semua guru yang pernah mengajarnya sangat mencintai Basel meski dia dalam kesengsaraan dan kemalangan. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan di Ma’had Dieni al Azhar tingkat atas (Aliyah). Namun, kondisi ekonomi keluarga yang sulit tidak mendukungnya. Dan seperti dapat diduga, dia lebih mengutamakan keluarga dan saudara-saudaranya dari dirinya sendiri. Dia pun berhenti sekolah kemudian belajar menggeluti profesi tukang kayu (furniture) membantu ayahnya menanggung beban ekonomi keluarga.
 Setiap orang yang mengenalnya mengungkapkan bahwa dia seorang pribadi teladan yang dicintai semua orang, senyumnya selalu menghiasi wajahnya, tidak mengenal dendam dan dengki apalagi benci meskipun terhadap orang pendengki sekalipun, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, selalu menanyakan siapa saja yang pernah dia kenal, selalu mengunjungi kerabat dekat bahkan kepada orang-orang yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengannya.
Bagi teman-temannya, Basel adalah sosok pemuda yang memiliki keberanian (syaja’ah), memiliki keteguhan hati yang tak ada bandingnya. Berbagai peristiwa dahsyat, terutama dalam aksi intifadhah pertama berhasil dia lalui dengan keteguhan hati. Terlebih saat berhadapan dengan militer Imperialis Israel, Singa Pejuang kita ini langsung terlibat menggerakkan aksi intifadhah dan berada di barisan terdepan dalam aksi-aksi perlawanan menghadapi militer Imperialis Israel.
Mujahid muda ini pun masih terus menyempurnakan peran dan strateginya bersamaan dengan meletusnya Intifadhah al Aqsha, namun dengan warna dan cara lainnya. Bersamaan dengan meletusnya Intifadhah al Aqsha, Mujahid Basel Najee bergabung dengan Gerakan Perlawanan Islam Hamas. Tetap kukuh berjamaah di Masjid An Nur, meski jarak antara masjid dan rumahnya cukup jauh. Suatu hal yang tidak mungkin, Anda melakukan sholat lima waktu di masjid tersebut kecuali Anda menyaksikan Basel berada di shaf pertama di antara para jama’ah, terutama ketika shalat fajar (subuh) karena dia sangat menjaganya untuk selalu berjama’ah. Semua itu sudah sangat populer di kalangan para pemuda, bahkan dia menjalin hubungan sangat erat dengan para pemuda, mendorong mereka untuk selalu menghadiri majlis ilmu, dzikir dan tahfidz al Quran. Basel sendiri selalu tekun menghafal al Quran, membaca kitab-kitab fiqh, sirah dan menghafal hadits-hadits Rasul. Menurut rekan-rekannya di Masjid an Nur, Basel – semoga Allah merahmatinya – selalu suntuk menghafal hadits-hadits Rasul dan gandrung mencarinya di manapun tempatnya. Dia selalu mendorong para pemuda untuk melakukan hal yang sama, sampai-sampai mereka menggelari Basel sebagai ”Abu Hadits”. Oleh karena itu, salah seorang pemuda pernah menjumpainya pada suatu malam sekitar jam setengah satu malam (24: 30), dia ditanya mau kemana. Basel bilang bahwa dia menemukan sebuah hadits, karenanya dia ingin pergi menemui Dr. Nizar Rayyan untuk menegaskan keshahihan hadits tersebut. Dan, memang sudah menjadi kebiasaan Basel sering pergi ke Dr. Nizar Rayyan, keduanya memiliki ikatan keilmuan yang sangat kuat.
Bagi Basel, menurut Usamah yang juga saudara kandung Basel Najee, tak seharipun dia lewatkan kecuali diisi dengan tilawah Al Quran atau kalau tidak, dia dengarkan lewat tape recorder. Selalu menunaikan shalat malam, disamping menyuruh keluarganya untuk melakukan hal yang sama. Menurut Usamah, Basel lebih mengutamakan aktivitas dakwah dan gerakan daripada aktivitas-aktivitas lainnya. Sebagian besar uang yang dia pegang dibelanjakan kaset-kaset keislaman dan ceramah-ceramah keagamaan, terutama ceramah Khalid Suwaidan dan Thariq Suwaidan, dua tokoh inilah yang sangat dia gandrungi. Di samping itu, dia suka membeli kaset-kaset ceramah lain untuk dibagikan kepada para pemuda muslim, bahkan kepada yang kurang memiliki komitmen keislaman untuk mendawai dan membuka hidayah mereka. Bahkan pernah terpikir olehnya mendirikan markas kecil untuk dakwah, dibelikan seperangkat komputer beserta puluhan CD yang berisi berbagai ceramah, wasiat para pelaku aksi syahid juga video TV untuk memutar kaset-kaset keislaman. Serta diadakan berbagai aktivitas kesenian Islam lainnya yang dilakukan oleh para pemuda.
Tentang hubungannya di dalam keluarganya, Basel memiliki tempat tersendiri di hati kedua orang tuanya, seorang anak yang taat. Bagi ibu Basel, meski dia sangat mencintai puteranya dan begitu sangat sedih saat berpisah dengannya, namun beliau melepas puteranya tanpa beban ketika mendengar berita kesyahidan anaknya, Basel.
Bagi Basel, perbincangan dan cerita tentang syahadah adalah suatu hidangan keseharian. Hampir dapat dipastikan oleh rekan-rekannya, selama 24 jam, lisannya tak pernah berhenti membincangkan masalah agama, dzikir dan keutamaan para syuhada’, disamping itu dia juga sangat menyukai nasyid-nasyid perjuangan. Dalam aktifitasnya, lisannya selalu mendendangkan syair,

مَوْتِيْ حَيَاةُ الْجِيْلِ فَلْيَرْخَص دَمِي.....وَلِتَعْلَمَ الدُّنْيَا عُلُوَّ مَنَانَا
kematianku adalah kehidupan generasi
betapa murah (harga) darahku
dan hendaklah dunia tahu
akan keluhuran kematian kami
Kehidupan Basel, meski banyak menampilkan keharuman, ternyata ada sisi kedzaliman yang harus dia lalui. Pada Januari 2001, dia sempat ditangkap dan ditahan pihak dinas keamanan rezim Imperialis Israel selama 45 hari atas tuduhan berafiliasi dengan Gerakan Hamas dan ikut serta dalam aksi penyerbuan ke markas dinas keamanan Israel di Kamp Pengungsi Jabalya dengan batu. Selama penyidikan, Basel mengalami berbagai penyiksaan dan penganiayaan. Sehingga ketika keluar tahanan dia mengeluhkan rasa sakit yang amat sangat pada pendengaran dan pinggangnya.
Namun, penjara dan penganiayaan tidak mampu melemahkan kekuatannya. Bahkan sebaliknya, bertambah kuat, teguh dan lebih komitmen. Menurut salah seorang rekannya, begitu Basel keluar dari penjara Israel, dia langsung pergi ke masjid untuk menunaikan shalat. Menurutnya, hal yang paling membuatnya disiksa adalah ketika para penyidik memintanya mencukur lihyah (jenggot) sebagai kompensasi pelepasannya, namun dia menolak dengan tegas permintaan tersebut.
Ketawadhu’an adalah sisi lain yang dimiliki Mujahid yang zuhud ini. Menurut Usamah, saudaranya, Basel tidak pernah tergiur urusan dunia dan tetek bengeknya. Hidupnya begitu sederhana sekali bahkan kamar yang dia tinggali berukuran hanya 1,5 X 2 meter persegi, padahal ruangan tersebut sedianya dijadikan gudang. Namun Basel – semoga Allah merahmatinya – menjadikan kamar itu untuk menjadi tempat tinggal dirinya, dia tidur hanya dengan menggelar tikar di lantai tanah. Dan barangkali tidak pernah terpikir dalam benaknya seharipun untuk membelanjakan uangnya untuk membeli pakaian ataupun hal lainnya. Hasratnya mengumpulkan uang hanya untuk membeli senjata dan sisir mesiu. Usamah pun teringat satu peristiwa, saat itu dia menghubungi Basel dan memberitahu agar pergi ke satu tempat untuk membeli alat penggiling makanan. ”Apakah kita butuh alat tersebut? Saya mengumpulkan uang untuk membeli senjata dan meriam,” jawab Basel yang selalu memburu sumber-sumber penghasilan dan uang demi membeli senjata.
Hari Jumat bagi Mujahid Basel adalah hari kesiagaan dan pada hari itu saat doa dikabulkan. Oleh karena itu, sebagian waktunya pada hari itu, dia habiskan untuk berdoa dan beristighfar, mengirim SMS ke rekan-rekannya, mendorong mereka untuk komitmen dengan sunnah-sunnah Jumat, istighfar dan doa. Di samping itu, dia juga mengirim hadits-hadits Rasul kepada mereka.
Setelah bergabung dengan Brigade Izzuddin al Qassam, Singa Mujahid Basel mulai melakukan latihan menggunakan senjata. Ikut dalam berbagai aksi melawan militer Imperialis Israel yang menyerbu Beit Lahiya, Beit Hanun dan Jabaliya. Pada saat militer Imperialis Israel menyerbu Beit Hanun, menurut salah seorang rekannya, Basel bertolak seorang diri dengan hanya membawa tiga granat. Dalam jarak dua meter, dia lempar bom ke arah tank Israel yang kemudian dijadikannya tempat perlindungan. Para serdadu Imperialis Israel langsung memuntahkan perluru timahnya ke seputar tank tersebut. Langsung Basel bersujud tanpa bergerak kecuali setelah tank-tank Israel bergerak.
Sewaktu terjadi penyerangan Beit Lahiya oleh militer Imperialis Israel, Basel sempat menghubungi keluarganya. Dia mengkhabarkan sedang terkepung dan dikelilingi tank-tank Imperialis Israel dari segala penjuru. Pada ibunya, dia minta untuk mendoakan agar dia menggapai syahadah. Namun, ternyata Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan lain, dia selamat dari kepungan tank-tank dan berondongan mesiu militer Israel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar